Lafadz Hadits
حدثنا جعفر بن محمد الخلدي ثنا الحسن بن علي القطان ثنا إسماعيل بن العطار ثنا إسحاق بن بشر ثنا سفيان الثوري عن الأعمش عن شقيق عن سلمة عن حذيفة رضى الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من أصبح والدنيا أكبر همه فليس من الله في شيء ومن لم يتق الله فليس من الله في شيء ومن لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم. مستدرك الحاكم
Penjelasan Sanad Hadits
Terkait hadits "... من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم " ada beberapa jalur periwayatan: pertama, dari Hudzaifah ra. (Lihat ath-Thabarani, al-Mu'jamul Awsath, 7/270). Al-Haitsami berkata (Lihat Majma'uz Zawaa'id, 1/47), "di dalamnya ada Abdullah bin Abi Ja'far ar-Razi, yg didhaifkan oleh Muhammad bin Humaid dan ditsiqahkan oleh Abu Hatim, Abu Zur'ah, dan Ibn Hibban". Ibn Rajab dalam kitab Jaami'ul Ulum wal Hikam (9/2) mencantumkan hadits tersebut dari Hudzaifah tanpa komentar.
Kedua, dari Abu Dzar (riwayat ath-Thabarani). Menurut al-Haitsami (Lihat Majma'uz-Zawaa'id, 11/143), di dalamnya ada Yazid bin Rabi'ah, dan dia matruk.
Ketiga, dari Ibn Mas'ud ra. (Lihat riwayat al-Hakim, 4/356). Imam adz-Dzahabi dalam kitab at-Talkhish mengatakan di dalamnya ada Ishaq dan Maqaatil yang keduanya tidak tsiqah dan juga tidak shadiq.
Keempat, dari Anas ra. dengan lafadz: "wa man laa yahtam lil muslimina falaysa minhum" (al-Baihaqi, Sya'bul Iman, 22/11). Al-Baihaqi menegaskan bahwa isnadnya dha'if.
Demikian juga dengan asy-Syaukani (Lihat al-Fawaa'idul Majmu'ah, 1/40), beliau mengatakan bahwa hadits tersebut dhaif.
Berkaitan dengan beragamnya jalur, riwayat dan komentar seperti disebutkan sebelumnya, ahsan jika kita menyimak apa yang disampaikan oleh Ibn katsir, beliau berkata: "meriwayatkan hadits bil ma'na dibolehkan oleh jumhur manusia, salaf dan khalaf.. dan diamalkan". Syaratnya adalah bahwa yang meriwayatkan tahu atas yang dia riwayatkan, bashiirah terhadap lafadz dan maksud dari lafadz. (Lihat al-Baa'its al-Hatsits Fikhtishaari 'Ulumil Hadits, 18).
Di samping itu, jika terdapat hadits yang sanadnya dha'if tetapi "talaqqahul ulama' bil qabuul" wajib diambil. Bahkan, para muhaqqiq seperti Ibn Taimiyyah, as-Subki, dan Ibn Abdis Salam menegaskan, bahwa para ulama mengambil hadits yang isnadnya masih "perlu dikaji", seperti hadits "... من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم ". Lebih dari itu, mereka menjadikannya sebagai dalil dan sandaran salah satu rukun tasyri' yang empat (Lihat Arsyif Multaqa Ahlil Hadits, 1/6747).
Dengan demikian, hadits tersebut di atas bersumber dari beberapa shahabat, dan kebanyakan ulama hadits mendha'ifkan. Untuk jalur dari Hudzaifah ra. yg diriwayatkan oleh ath-Thabarani, menurut al-Haitsami, Abu Zur'ah, Abu Hatim, dan Ibn Hibban mentsiqahkan Abdullah bin Abi Ja'far ar-Razi. Jadi sebenarnya hadits tersebut makbul. Bahkan ketika Ibn Rajab mencantumkan hadits tersebut dalam kitabnya, dan tidak memberikan komentar apapun, menunjukkan penerimaan beliau terhadap hadits tersebut. Artinya, menurut Ibn Rajab hadits tersebut makbul.
Walaupun hadits tersebut pada kebanyakan sanadnya adalah dha'if, tetapi karena 'talaqqahul 'ulama bil qabul', menurut para ulama wajib diambil. Selain itu, meski hadits tersebut pada kebanyakan jalur sanadnya dha'if, tetapi dari segi maknanya sejalan dengan hadits-hadits shahih dan ayat-ayat al-Qur'an yang mewajibkan ihtimam atas kaum muslimin dan urusan mereka.
Jadi, bisa dikatakan bahwa periwayatan hadits tersebut adalah bil makna, dan ini bagi para ulama salaf dan khalaf adalah boleh. Jika demikian, maka "... من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم " adalah adalah makbul, karena: (1) ada sebagian riwayatnya yang makbul; (2) hadits tersebut diriwayatkan "bil ma'na", dan secara makna sejalan ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits shahih yg mewajibkan ihtimam terhadap umat Islam dan urusan mereka; (3) hadits tersebut "talaqqahul ulama' bil qabul". Wallahua'lam. [yuana ryan al-julaniy/tsaq/syabab.com]

ditulis oleh mustaqim masri , 29 December 2009
salam ukhuwah.ana amat mengharapkan secara terperinci hujah dan dalil tentang hadis ahad adakah boleh dijadikan hujjah dalam akidah.
ataupun ada terjemahan dari kitab istidlal bi zhonni fil 'aqidah karya fathi muhammad salim...
semoga bersama rahmat dan redho Allah..salam perjuangan menegakkan khilafah
ditulis oleh Yuana Ryan Tresna , 03 January 2010
Banyak sekali penjelasan para ulama terkait dengan hadits ahad apakah bisa dijadikan hujjah dalam masalah aqidah ataukah tidak. saya sendiri punya kumpulan aqwal para ulama terkait dengan topik hadits ahad tersebut. memang ini ranah ikhtilaf, tapi dengan meneliti pendapat2 tersebut akan semakin memetakan bagaimana duduk persoalnnya.
Mungkin jika antum perlu saya harus kirim kemana?
ditulis oleh azizi as-shiddiqy , 12 February 2010
riwayat al-hakim dalam almustadraknya tentang hadits d atas ditashih oleh Al-Asyuthi dalam Al-Jami'us-Shaghir.
ditulis oleh syamsuddin , 18 April 2010
baca kitab ini komplit
disertai contoh riwayat riwayat ahad yang satu dg yang lain yang kemudian membuat pembaca bisa paham posisi hadits ahad dalam masalah aqidah;
khabarul wahid la yufidul ilma wala yu'khadu fil aqoid
oleh syeh assyuwaiki
kalau yang satu ini agak garang,
khabar wahid attasdiq wa adamul jazmi fil aqoid
oleh tsabit khawaja
bisa di donwload di
http://www.4shared.com/account/dir/6436276/23319f3f/sharing.html?rnd=67
ditulis oleh abu wildan , 05 February 2011
Apakah artinya ikhlas dlm islam? Kalau kita beribadah dengan mengharap ganjaran dari Allah SWT,apakah ini berarti tidak ikhlas? Berdoa dengan kata perintah,misalkan "shalli ala muhammad."apakah tidak beradab pada Allah?masa Allah kita perintah?Lalu gimana yang benar?tolong balas ke email saya,syukron jadza kallahu khairan.
ditulis oleh abu wildan , 05 February 2011
Apakah artinya ikhlas dlm islam? Kalau kita beribadah dengan mengharap ganjaran dari Allah SWT,apakah ini berarti tidak ikhlas? Berdoa dengan kata perintah,misalkan "shalli ala muhammad."apakah tidak beradab pada Allah?masa Allah kita perintah?Lalu gimana yang benar?tolong balas ke email saya,syukron jadza kallahu khairan.
ditulis oleh abu wildan , 05 February 2011
Nanya nih akh...
1. Tolong jelaskan apakah artinya ( kata ) ikhlas dalam islam?
2. Kalau kita beribadah dengan mengharapkan suatu ganjaran dari Allah SWT,apakah itu berarti kita tidak ikhlas?
3. Kalau kita meminta sesuatu pada Allah dengan menggunakan kata perintah,apakah ini berarti tidak beradab pada Allah? Contohnya kata " ...shalli ala Muhammad.."
syukron jadza kallahu khairon
ditulis oleh renoldo , 29 November 2011
kanapa agama islam tdk merayah kan tahun baru islam???
misalnya pawe keliling kota atw mengundang masyarakat ke mesjid untuk merayah kan nya
tpi ini tabaleh cuma tahun baru yang d kasih meggah , bkar kembang apilah , taruh tv d luar dan musik d kasih keras subahana alah
ini nungkin tanda-tanda kiamat?????

















