Fri08012014

Last update03:14:20 PM GMT

Sistem Pemerintahan yang Diwajibkan Allah adalah Sistem Khilafah

Syabab.Com - Sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan alam semesta adalah sistem Khilafah. Di dalam sistem Khilafah ini Khalifah diangkat melalui baiat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya untuk memerintah sesuai dengan wahyu yang Allah turunkan.  Dalil-dalil yang menunjukkan kenyataan ini sangat  banyak, diambil dari al-Kitab, as-Sunnah, dan Ijmak Sahabat.

Dalil dari al-Kitab di antaranya bahwa Allah SWT telah berfirman menyeru Rasul saw.:

Karena itu, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 48).

Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 49).

Seruan Allah SWT kepada Rasul saw. untuk memutuskan perkara di tengah-tengah mereka sesuai dengan wahyu yang telah Allah turunkan juga merupakan seruan bagi umat Beliau. Mafhûm-nya adalah hendaknya kaum Muslim mewujudkan seorang hakim (penguasa) setelah Rasulullah saw. untuk memutuskan perkara di tengah-tengah mereka sesuai dengan wahyu yang telah Allah turunkan. Perintah dalam seruan ini bersifat tegas karena yang menjadi obyek seruan adalah wajib.  Sebagaimana dalam ketentuan ushul, ini merupakan indikasi yang menunjukkan makna yang tegas. Hakim (penguasa) yang memutuskan perkara di tengah-tengah kaum Muslim setelah wafatnya Rasulullah saw. adalah Khalifah, sedangkan sistem pemerintahannya adalah sistem Khilafah.  Apalagi penegakan hukum-hukum hudûd dan seluruh ketentuan hukum syariah adalah wajib. Kewajiban ini tidak akan terlaksana tanpa adanya penguasa/hakim, sedangkan kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu maka keberadaan sesuatu itu hukumnya menjadi wajib.  Artinya, mewujudkan penguasa yang menegakkan syariah hukumnya adalah wajib.  Dalam hal ini, penguasa yang dimaksud adalah Khalifah dan sistem pemerintahannya adalah sistem Khilafah.

Adapun dalil dari as-Sunnah, di antaranya adalah apa yang pernah  diriwayatkan dari Nafi’. Ia berkata: Abdullah bin Umar telah berkata kepadaku: Aku mendengar Rasulullah saw. pernah bersabda:
 

«مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةً لَهُ وَ مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً»

Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat kelak tanpa memiliki hujjah, dan siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tidak terdapat baiat (kepada Khalifah), maka ia mati seperti kematian Jahiliah.
(HR Muslim).

Nabi saw. telah mewajibkan kepada setiap Muslim agar dipundaknya terdapat baiat.  Beliau juga menyifati orang yang mati, yang di pundaknya tidak terdapat baiat, sebagai orang yang mati seperti kematian Jahiliah. Baiat tidak akan terjadi setelah Rasulullah saw. kecuali kepada Khalifah, bukan kepada yang lain. Hadis tersebut mewajibkan adanya baiat di atas pundak setiap Muslim, yakni adanya Khalifah yang dengan eksistensinya itu terealisasi adanya baiat di atas pundak setiap Muslim. Imam Muslim menuturkan riwayat dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَ يُتَّقَى بِهِ»

Sesesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung  kepadanya. (HR Muslim).

Imam Muslim telah menuturkan riwayat dari Abi Hazim yang berkata: Aku mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun. Aku pernah mendengar ia menyampaikan hadis dari Nabi saw. yang bersabda:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ، قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ»

“Dulu Bani Israel diurusi dan dipelihara oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para Khalifah, yang berjumlah banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi saw. bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama, yang pertama saja, dan berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang mereka urus.”
(HR al-Bukhari dan Muslim).

Di dalam hadis-hadis ini terdapat sifat bagi Khalifah sebagai junnah (perisai) atau wiqâyah (pelindung).  Sifat yang diberikan oleh Rasul saw. bahwa Imam adalah perisai merupakan ikhbâr (pemberitahuan) yang mengandung pujian terhadap eksistensi seorang imam/khalifah. Ikhbâr ini merupakan tuntutan karena ikhbâr dari Allah dan Rasul saw., jika mengandung celaan, merupakan tuntutan untuk meninggalkan, yakni larangan; jika mengandung pujian, merupakan tuntutan untuk melakukan. Jika aktivitas yang dituntut itu pelaksanaannya memiliki konsekuensi terhadap tegaknya hukum syariah atau pengabaiannya memiliki konsekuensi terabaikannya hukum syariah, maka tuntutan itu bersifat tegas. Dalam hadis ini juga terdapat ikhbâr, bahwa orang yang mengurus kaum Muslim adalah para khalifah, yang berarti, hadis ini merupakan tuntutan untuk mengangkat khalifah.  Apalagi Rasul saw. telah  memerintahkan kaum Muslim untuk menaati para khalifah dan memerangi siapa saja yang hendak merebut jabatan dalam kekhalifahannya. Perintah Rasul saw. ini berarti perintah untuk mengangkat khalifah sekaligus menjaga eksistensi kekhalifahannya dengan cara memerangi semua orang yang hendak merebut kekuasaannya. Imam Muslim telah menuturkan riwayat bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«وَ مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَ ثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اِسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرٌ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرِ»

Siapa saja yang telah membaiat seorang imam/khalifah serta telah memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia menaatinya sesuai dengan kemampuannya. Lalu jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya, maka penggallah leher (bunuhlah) orang itu.
(HR Muslim).

Dengan demikian, perintah untuk menaati Imam/Khalifah merupakan perintah untuk mengangkatnya, dan perintah untuk memerangi siapa saja yang hendak merebut kekuasaan Khalifah menjadi qarînah (indikasi) yang tegas di seputar keharusan untuk mewujudkan hanya seorang khalifah saja.

Adapun dalil berupa Ijmak Sahabat maka para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat atas keharusan mengangkat seorang khalifah (pengganti) bagi Rasulullah saw. setelah Beliau wafat. Mereka telah bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah, lalu Umar bin al-Khaththab, sepeninggal Abu Bakar, dan kemudian Utsman bin Affan. Sesungguhnya tampak jelas penegasan Ijmak Sahabat terhadap kewajiban pengangkatan khalifah dari sikap mereka yang menunda penguburan jenazah Rasulullah saw. saat Beliau wafat; mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah (pengganti) Beliau, padahal menguburkan jenazah setelah kematiannya adalah wajib. Para Sahabat, yang berkewajiban mengurus jenazah Rasul saw. dan menguburnya, ternyata sebagian dari mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah dan menunda penguburan jenazah Beliau; sebagian yang lain membiarkan penundaan itu; mereka sama-sama ikut serta dalam penundaan pengebumian jenazah Rasul saw. sampai dua malam. Padahal mereka mampu mengingkarinya dan mampu menguburkan jenazah Rasulullah saw. Rasul saw. wafat pada waktu dhuha hari Senin dan belum dikuburkan selama malam Selasa hingga Selasa siang saat Abu Bakar dibaiat. Kemudian jenazah Rasul dikuburkan pada tengah malam, malam Rabu.  Jadi, penguburan jenazah Rasul saw. itu ditunda selama dua malam, dan Abu Bakar dibaiat terlebih dulu sebelum penguburan jenazah Rasul saw.  Dengan demikian, realitas tersebut merupakan Ijmak Sahabat yang menunjukkan keharusan untuk lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah daripada menguburkan jenazah. Hal itu tidak akan terjadi kecuali bahwa mengangkat khalifah lebih wajib daripada mengebumikan jenazah. Para Sahabat seluruhnya juga telah berijmak sepanjang kehidupan mereka mengenai kewajiban mengangkat khalifah.  Meski mereka berbeda pendapat mengenai seseorang yang dipilih sebagai khalifah, mereka tidak berbeda pendapat sama sekali atas kewajiban mengangkat khalifah, baik ketika Rasul saw. wafat maupun saat Khulafaur Rasyidin wafat. Walhasil, Ijmak Sahabat ini merupakan dalil yang jelas dan kuat atas kewajiban mengangkat khalifah.  [Sumber: Struktur Negara Khilafah ]

Komentar (13)add comment
0
...
ditulis oleh Fadhli Abu Malica , 09 February 2010

Khilafah is a matter of time. Save the world with Khilafah. Allahu Akbar!
report abuse
vote down
vote up

Votes: +3

0
...
ditulis oleh JamalKendari , 06 June 2010

Dunia akan kembali damai kalau Syariah Islam dan Khilafah kembali tegak di bumi. Israel dan Amerika yang pongah dan kejam bisa dilawan dan diberantas.
report abuse
vote down
vote up

Votes: +3

0
Selamat datang Khilafah Islamiyah...... kami merindukanmu...
ditulis oleh Al Fathan , 18 August 2010

Cepat atau lambat khilafah islamiyah akan berdiri.... bendera islam akan berkibar di seantero dunia walau org2 kafir, org2 musyrik, kaum liberal dan org2 munafik tdk menyukainya.... Allahu Akbar
report abuse
vote down
vote up

Votes: +1

0
islam agamaku!!!
ditulis oleh HAMBA ALLAH , 04 January 2011

moga2 sistem ini akn kembali brfungsi seperti zaman2 RASULULLAH SAW.............ISLAM BERSATU KEMBALI!!!///
report abuse
vote down
vote up

Votes: +0

0
Pemberlakuan Syariat
ditulis oleh elfan , 22 February 2011

Pemberlakuan syariat itu tidak harus menunggu sistim pemerintahan atau negara khilafah. Kini, seperti NKRI pun bisa asal kemauaan rakyatnya berkehendak itu.
report abuse
vote down
vote up

Votes: +0

0
Pejuang Syari'ah
ditulis oleh Ika Mustika , 05 May 2011

Ku tunggu kehadiranmu..
ku perjuangkan ke agunganmu..

ku ingin syahid saat menmpuh jalanmu

report abuse
vote down
vote up

Votes: +1

0
Pejuang Syari'ah
ditulis oleh Ika Mustika , 05 May 2011

Ku tunggu kehadiranmu..
ku perjuangkan ke agunganmu..

ku ingin syahid saat menmpuh jalanmu

report abuse
vote down
vote up

Votes: +0

0
khalifah bukan satu2nya solusi
ditulis oleh sobrun , 12 May 2011

meski aku muslim tapi aku masih kurang setuju negara ini menjadi khalifah. masih terlalu banyak PR buat kita. sama sekali aku tidak mengatakan bahwa kekhalifahan itu jelek. tapi sistem kekhalifahan jika ada sekarang ini maka aku ibaratnya sepotong daging paha yang dimasak enak sekali, gizinya banyak, minyak gorengnya berkualitas sehingga sehat untuk dimakan... tapi mereka lupa bahwa negeri ini ibarat bayi yang baru lahir dari perut ibunya. jadi tidak bisa. lebih baik dari pada kita mikirin khalifah mending kita ngajari temen2 di pedesaan biar bisa baca Qur'an dengan benar, sholatnya tidak bolong2, bulan ramadhan pada puasa dll...
boro-boro mejadi kekhalifahan... orang awam denger syariat Islam saja takut. takut dibom lah... takut diteror lah... takut nanti anaknya kabur dan tdak mengakui orang tuanya lagi lah dll...
sekarang yang penting adalah rakyat makmur dan selau ingat sama tuhannya terserah bentuk pemerintahannya apa....

report abuse
vote down
vote up

Votes: +0

0
Korupsi di indonesia sistem khalifahlah yg tepat
ditulis oleh Noval , 18 June 2011

menurut saya dalam sistem khalifah manusia tdk memiliki otoritas membuat hukum kecuali menjabarkan dan merumuskan hukum yg belum ada ketentuannya dalam al-qur'an..maka apabila kalau kita kembali lagi melihat negeri ini yg selalu bermusibah dgn bnyk nya koruptor maka cocok merepkan hukum sistem ini...bukan hak legislatif yg membuat hukum tanpa mengambil dasar dalam al-qur'ann sunnah..hukum manusia tdk sempurna...sampai hari ini hukum yg mengatur terhadap para koruptor tak kunjung di sahkan dan di rancang......ini persoalan karna saling korup sich dan saling bekerja sama.....
report abuse
vote down
vote up

Votes: +0

0
الى أمير المؤمنين المهدي حيثما كان
ditulis oleh roychann , 01 October 2011

أثبت ثبتك الله

قال الله جل شأنه : الحمد لله رب العالمين

وهو الله الأحد أنه لا يخلف الميعاد

report abuse
vote down
vote up

Votes: +0

0
...
ditulis oleh aditya , 19 March 2012

benarkah sistem negara yg dikehendaki Allah adalah khilafah.......tp dr dalil yg you sampaikan ga satupun yg memunculkan bahwa Allah n rasulullah memerintahkan suatu negara menggunakan sistem negara khilafah.....tp yg disampekan malah dalil2 yg ga ada hubungan sama sekali dg sistem yg ingin you usung......yg bener aja bro....klo ga ada dalilnya jgn dibuat-buat seolah-olah ada dalilnya................itu namanya pembohongan....ingat...islam itu rahmatan lil alamiin......yg pantang menjelek-jelekan orang lain ato musuh sekalipun........
report abuse
vote down
vote up

Votes: +4

0
2013 khilafah ada
ditulis oleh komar , 21 February 2013

kau ngomong bgtu,, liat realitanya apakah Sistem skrg bsa lbih baik dri pada sistem Allah 13 abab lbih brjya hampir tiada cacat
report abuse
vote down
vote up

Votes: +0

0
Mengapa tidak dari awal Indonesia Merdeka??
ditulis oleh Wahyu , 27 March 2013

Apakah sistem khilafah akan menjadi money politik???
Apakah sistem khilafah murni atas umat muslim sendiri??

Sangat meragukan, jika memang tidak seperti itu mengapa tidak sebelum zaman wali songo???
Atau zaman sebelum wali songo???

Saya takut, jika sistem khilafah berjalan di Negeri ini di dalamnya ada antek-antek zionis, yahudi, nasrani yang menjadi dalang dari sistem ini yang mana akan merusak NKRI.

report abuse
vote down
vote up

Votes: +1


Tulis komentar
persempit | perluas
 

busy
Advertisement
Advertisement

Anak Muda

News image

Aku dan Islam

Syabab.Com - “Jika kamu masih mempunyai banyak pertanyaan, maka kamu belum dikatakan beriman, Iman adalah percaya apa...

Lebih lanjut
BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS